Wednesday, October 15, 2014

Tuan Masa Lampau

Tuan, aku dicerca memori masa lalu. Mimpi ini berkalut dalam rindu, berkabut dalam tanya dan terbalut rasa malu karena Tuan yang aku punya sekarang tak akan suka bila ia dapat melihat bilik mimpiku.

Dimimpiku kamu pun sama. Senyum dalam dagumu yang mungil. Mata yang menyipit tiap kali ada tawa. Kaos yang selalu terlihat melebar. Dan bahkan kamu melempar gurauan, tanda alam bawah sadarku tak pernah lupa. Gurauanmu selalu khas. Tanpa sara dan bobot, yang meledek terdengar seperti pujian, kamu jenius dalam tawa.

Lelap dalam mimpiku tapi jangan alam sadarku. Tulisan ini hanya pujian dari bunga otakku yang masih bekerja mengenang kamu, walau jarak memori yang ditempuh pasti cukup jauh. Kamu apa kabar? Hanya itu yang ingin kutau ketika aku sadar. Batas mengenal kabar aku ingin tahu, yang kutakutkan bila rindu menyatu. Karena mau tak mau. Tersungging senyuman ketika mimpi masih segar terbaca, saat kepala masih tersandar dalam tumpukan bulu angsa, saat tangan masih meraba-raba tangan yang tak pernah ada dalam tempatnya. Disaat itulah aku ingin tahu kabarmu secepatnya.