Saturday, July 19, 2014

I Know It's a Chessy Poems But

Kugenggam tanganmu, Tuan
Kugenggam lagi

Sekarang kita berkelana lagi. Senangnya, katamu. Aku tersenyum. Kulirik tangan yang kamu genggam sekarang. Erat, kelewat erat. Saking eratnya mungkin kamu tak ingin aku lepas lagi. Walau betapa inginnya aku untuk pergi darimu, Tuan, setelah setengah perjalanan yang kita lalui kamu sempat berkenala bersama orang lain.
Aku hanya pamit sebentar, kataku.
Aku akan menunggu, katamu Tuan saat itu sambil berurai air mata. Perjalananku hanya untukmu, katamu lagi.
Tuan, aku hanya berbalik sekejap mata. Bukan untuk selamanya. Janji kita akan selalu berkelana bersama tanpa ada orang lain perlu naik ke atas perahu kita hanya hembusan angin belaka.
Sekarang kita berkelana lagi bersama kapal yang telah karam. Ingin kubuat kapal baru sendiri, berlabuh tanpa teduh menuju perjalananku yang akan diarungi sendiri.
Lalu Tuan, kamu genggam tanganku.
Aku ingin berkelana bersamamu sekali lagi, katamu.
Tuan ikatkan sebuah simpul mati antar jari
Tanda aku tak boleh lagi pergi
Tapi perjalanan kita kelewat jauh, Tuan
Biarkan aku berkelana sendiri sekali lagi, kataku.
Kau buat simpul mati tiap hari
Kau ikatkan lagi dan lagi
Lagi
Dan lagi